Kadang, suara paling keras dalam diri bukan datang dari hari ini, tapi dari jeritan masa kecil yang terbungkam.

Hujan sore itu turun pelan—seolah meniru ritme napas Alena Grace yang berusaha tetap teratur di tengah dadanya yang sesak. Di balik jendela apartemen kecilnya, ia menatap titik-titik air yang turun perlahan lalu hilang.

“Seperti aku,” gumamnya. “Turun, hilang, dan tak pernah benar-benar terlihat.”

Alena, 34 tahun, dikenal sebagai perempuan yang cerdas, tangguh, rapi, dan tegas. Namun, di balik tampilan itu, ada kerapuhan yang tak pernah diketahui orang, bahkan dirinya sendiri pun nyaris tertipu oleh banyaknya topeng yang ia kenakan.

 

Jejak Luka yang Tak Pernah Usai

“Anak perempuan harus bisa segalanya, jangan cengeng!!”, suara papanya dulu masih jelas terngiang. Suara yang dingin, penuh tuntutan, tanpa ruang untuk membuat kesalahan.

Bagi Alena kecil, nilai 9 yang dicapai dalam setiap mata pelajaran adalah teriakan, lemparan sendok, asbak, sepatu atau lengkingan rotan yang menghantam pantat mungilnya. Belum lagi tugas-tugas yang dibebankan kepadanya sebagai anak perempuan satu-satunya, di antara dua saudara laki-lakinya, yaitu kakak dan adiknya, yang mendapat perlakuan bak pangeran. Bagi Alena kecil, hanya sepi malam yang bisa membuat hidupnya tenang. Kesunyian menjadi ruang yang nyaman buat Alena, sampai dewasa.

Mama adalah seorang perempuan yang tangguh, tidak pernah mengeluh dan selalu mengalah. Mama memainkan peran seorang penolong yang sangat sempurna, kuat, tidak mengeluh, dan selalu siap kapan pun papa membutuhkan. Pada akhirnya, Alena kecil dijadikan “sekutu” oleh Mama dan dipersiapkan menjadi “penolong” setia yang harus tunduk dalam segala situasi.

Papa yang otoriter, Mama yang pasif, dan kesunyian malam, semuanya meninggalkan jejak berkarat dalam jiwanya.

Alena tumbuh dengan keyakinan: “Agar dicintai, ia harus sempurna! Agar dapat bertahan hidup, ia tidak boleh lemah.” Setetes air mata pun tidak diizinkannya untuk menetes turun dari kedua mata indahnya.

Ia belajar untuk menjadi sempurna, menyenangkan semua orang, menjadi kuat, dan tidak pernah gagal. Di mata semua orang, Alena adalah sosok wanita karier yang sukses dan hebat. Namun, di balik topeng itu, jiwanya retak. Ia tak berani salah. Ia takut ditolak. Degup jantungnya akan berdetak keras setiap kali dia harus berhadapan dengan orang atau mendengar suara keras.

Maka secara tidak sadar, ia membungkus kerinduan dengan prestasi dan menutupi rasa takut dengan senyuman.

 

Topeng-Topeng yang Menyembunyikan Luka

Alena menjadi seorang people pleaser (baca: selalu ingin menyenangkan orang lain) yang perfeksionis. Ia selalu dapat menenangkan orang lain, tetapi tidak tahu bagaimana menenangkan dirinya sendiri. Hubungannya dengan lawan jenis nyaris tak pernah bertahan. Baginya, laki-laki adalah ancaman: sosok yang bisa melukai, mengontrol, atau mengkhianati. Di balik setiap keputusan yang tampak tegas, ada hati kecil yang berbisik: “Tolong, jangan tinggalkan aku.” Namun, suara itu selalu ia bungkam, karena menunjukkan kelemahan berarti ancaman bahaya.

 

Saat Masa Kecil Menggedor Pintu Hati

Hari ini usianya genap 34 tahun. Hanya kesunyian yang dihiasi suara tik tok, tik tok dari jam dinding yang menemaninya. Samar-samar Alena mendengar tangis seorang anak perempuan kecil yang berusia tujuh tahun. Dadanya berdegup kencang, ia kesulitan bernapas seakan-akan tenggelam di kedalaman laut yang kelam. Napasnya terasa sesak.

Ya, peristiwa itu kembali terulang dalam ingatannya. Bagaikan film yang selalu berputar setiap hari ulang tahunnya!

“Hari ini usiaku 7 tahun,” ucap Alena kecil dalam hati dengan senyum yang merekah di bibir mungilnya. Dengan sigap Alena merapikan tempat tidurnya sambil menyanyikan pelan lagu yang diajarkan kakak Sekolah Minggu, “Happy ya ya ya…, happy ye ye ye ye…”

Dalam pikirannya, sepulang sekolah nanti Mama sudah menyiapkan sebuah kue ulang tahun berwarna merah muda dengan hiasan boneka Snow White di atasnya. Papa juga pasti menyiapkan sebuah boneka panda besar sebagai hadiah ulang tahunnya. Ia berpikir Papa pasti menyempatkan diri makan siang di rumah, sama seperti saat kakak dan adiknya berulang tahun. Wajah polos Alena gembira, matanya seolah berbicara dalam keriangan penuh harap.

Namun, yang terjadi…

Nafas Alena kembali sesak, matanya nanar dalam kegelapan. Sekelilingnya lembab, pengap dan dingin. Hanya cahaya kecil dari lampu lorong depan gudang yang menyelusup masuk melalui celah bawah pintu. Di sudut dekat tumpukan karton dan barang-barang bekas, seorang gadis kecil meringkuk memeluk lututnya dan terisak tanpa suara, tercekat dengan sesak di dadanya.

Sepulang sekolah tadi, Alena dengan wajah penuh harap dan sukacita berlari kecil menuju dapur. Papa, Mama dan kedua saudaranya pasti sudah menunggunya di meja makan. Di tangannya ada selembar kertas ulangan matematika, terukir angka 9 yang akan dia persembahkan untuk Papa di hari ulang tahunnya.

Dengan berlari kecil Alena menghampiri Papa yang masih duduk di ruang keluarga, sepertinya Papa juga baru sampai ke rumah. Sepatunya pun belum dibuka!

“Papa, hari ini Alena ulang tahun! Di sekolah tadi, Alena pintar, ulangannya dapat 9. Alena dapat hadiah kan, Pa?!” celoteh riang Alena dengan mata yang penuh harap, sambil berlari kecil dan melambaikan kertas yang dibawanya.

Papa mendengus “Hahh… nilai 9 kamu bilang pintar??!! Seharusnya 10!!”

Dan, plak!! Tiba-tiba, sepatu Papa melayang dan mendarat di kening Alena.

Bau pengap gudang bercampur aroma kencing tikus menyedak, tubuh mungil Alena basah kuyup oleh keringat bercampur air mata. Di hari ulang tahunnya yang ke 7, Papa mengurungnya di gudang semalaman, tanpa makanan, hanya karena nilai 9 di kertas ulangannya. Alena kecil hanya terdiam membeku. Baginya, kesempurnaan adalah harga mati!

Kini Alena dewasa meringkuk di kamarnya yang bersih, harum, dan dingin karena udara AC. Namun, itu semua tidak membuat air mata dan keringat yang membasahi tubuhnya berhenti. Di sudut sana, dilihatnya Alena kecil ikut meringkuk dengan gemetar dan ketakutan.

Gadis kecil itu menatapnya dengan mata yang basah.

“Kenapa kamu tidak pernah datang?” tanya gadis kecil itu kepadanya dengan suara pelan.

“Aku sendirian di sana. Kamu pergi dan tak pernah kembali.”

Alena gemetar. Untuk pertama kalinya, ia sadar: Yang ia takuti selama ini bukanlah dunia luar, melainkan bagian dari dirinya sendiri. Jeritan masa kecil yang terbungkam, terpenjara, dan belum terselesaikan!

 

Kasih yang Menyentuh Luka

Beberapa minggu kemudian, Alena menghadiri retret rohani. Waktu doa malam, pembicara berkata: “Tuhan tidak akan memaksa membuka luka yang belum siap kamu hadapi, tetapi Ia juga tidak akan membiarkanmu selamanya hidup dalam ketakutan.”

Air matanya mengalir. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alena membuka hatinya dan mengizinkan Tuhan memasuki keheningan yang terbungkam dalam kesesakan. Dalam hatinya terdengar bisikan lembut: “Aku ada di sana saat kamu terluka. Aku menangis bersamamu.”

Bayangan dirinya yang kecil kini tidak lagi sendirian. Ada Tangan yang memeluk, Tangan Kudus penuh cahaya dan kasih. Untuk pertama kalinya, Alena merasa aman.

 

Perjalanan Pulang ke Dalam Diri

Sejak hari itu, Alena mulai menulis surat-surat kecil untuk dirinya di masa lalu:

“Kamu tidak bodoh.”

“Kamu berharga.”

“Itu bukan salahmu.”

“Yesus sangat mengasihimu.”

“Allah menerimamu dengan segala kelemahanmu.”

“Engkau layak untuk dikasihi.”

Surat-surat itu menjadi doa, menjadi air mata, dan akhirnya menjadi jembatan antara masa lalu dan kasih Kristus yang memulihkan. Ia belajar membiarkan kasih itu menyentuh bagian yang paling rapuh. Kasih yang tidak menuntutnya untuk sempurna, kasih yang tidak datang untuk menilai, melainkan untuk menerima dan memeluk.

 

Ketika Masa Kecil Itu Berbicara Lagi

Kini, Alena tidak lagi menolak masa lalunya.

Ia menatap hujan dengan hati yang baru: bukan untuk melupakan, tetapi untuk berdamai.

“Terima kasih sudah datang kembali,” bisik anak kecil itu di dalam dirinya.

Alena tersenyum. Ia tahu, mungkin hidupnya tak akan sempurna. Namun, kasih Kristus sudah memulihkan yang retak menjadi indah.

 

Sebuah Refleksi:

Terkadang, yang kita sebut kekuatan hanyalah cara lama untuk bertahan hidup, yang merapuhkan jiwa dan merampas sukacita kita, dan membuat kita sulit menikmati kasih karunia Tuhan.

“Tuhan itu dekat kepada orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:19)

Namun, kasih Kristus tidak menginginkan kita untuk sekadar bertahan. Ia ingin agar kita hidup dengan sepenuhnya, bahkan dengan luka yang pernah ada.

“Ketika Masa Kecil Masih Berbicara” mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak menghapus masa lalu kita, melainkan menebusnya menjadi kisah kasih yang baru.

 

Yuk, berjalan berdampingan untuk

menjadi orang tua sebaik yang kita bisa.

Klik untuk SUBSCRIBE