Bagaimana rasanya memiliki anak? Pada umumnya pasangan suami-istri akan merasa bahagia saat dikaruniai momongan, dan keluarga serta orang-orang terdekat ikut mendukung dan mendoakan ibu juga calon bayi. Sembilan bulan lamanya sang istri akan mengandung, dan selama itu pula calon orangtua ini menantikan dengan penuh harapan, menjaga dan merawat kandungannya sebaik mungkin. Mulai dari memberikan gizi yang terbaik hingga mempersiapkan kebutuhan bayi mereka setelah nanti dilahirkan. Memiliki anak adalah anugerah yang indah bagi pasangan suami-istri, oleh karenanya, tak heran betapa besar kesedihan yang mereka rasakan ketika harus kehilangan seorang anak.

Jangankan kehilangan anak, ketika anak jatuh sakit saja orangtua pasti langsung cemas. Emosi mereka terkuras karena merasa sedih dan takut akan kehilangan anak mereka. Seperti yang dialami oleh Yairus, Kepala Rumah Ibadat dalam Lukas 8:40-56. Anak perempuan Yairus, anak satu-satunya yang selama 12 tahun selalu bersamanya, hampir mati. Yairus pun bergegas memohon pertolongan Yesus untuk datang ke rumahnya dan menyelamatkan anaknya. Di tengah perjalanan, salah satu kerabat Yairus menyampaikan bahwa anaknya telah mati. Yesus tahu betapa Yairus sangat takut kehilangan putri satu-satunya. Maka Dia pun berkata kepada Yairus: “Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat” (Lukas 8:50). Lewat perkataan Yesus kepada Yairus ini, semua orangtua memiliki pengharapan bahwa Tuhan Yesus memahami hati kita yang terdalam, ketika kita merasa khawatir dan takut kehilangan anak yang kita sayangi. Cara Yesus menolong dan menyelamatkan anak Yairus dari kematian, memang tidak selalu menjadi kenyataan yang kita hadapi. Namun, Tuhan Yesus selalu punya cara untuk menolong orangtua mengatasi rasa takut kehilangan anak dan menghadapi dukacita akibat kematian.

Seperti yang dialami oleh Barbara Johnson, seorang anak pendeta dan ibu yang inspiratif. Sejarah kedukaan dan penderitaan hidup masa lalunya pernah membuat Barbara ingin mengundurkan diri menjadi seorang ibu dan mengambil nyawanya sendiri. Mulai dari ayahnya yang meninggal mendadak di gereja sewaktu ia masih berusia 12 tahun, kecelakaan suami yang nyaris merenggut nyawa, hingga kedua anaknya gugur karena tertembak peluru musuh di Vietnam dan tewas dalam kecelakaan, tertabrak mobil yang dikendarai sopir yang sedang mabuk. Penderitaan dan kedukaan yang pernah dialaminya menjadikan Barbara seorang yang inspiratif dan menjadi berkat bagi jutaan orang di dunia yang hidup menderita. LeAnn Weiss (2003) mengungkapkan pernyataan Barbara ketika membahas biografinya: “Tuhan mengangkat saya ketika pikiran dan emosi saya hancur oleh tragedi. Dia menganugerahi saya dengan sukacita sehingga saya mampu berbagi cerita dengan orang lain tentang hal baik yang juga akan Tuhan lakukan untuk mereka.” Lebih lanjut, Barbara menjelaskan, “Tangis yang tak terhitung banyaknyalah yang mengajari saya tentang sukacita sejati yang tidak bergantung pada keadaan di sekitar saya.

Kematian anak adalah salah satu kehilangan yang pastinya dirasa sangat menyedihkan bagi orangtua. Terlalu cepat rasanya anak pergi meninggalkan orangtua dan rasanya seperti baru kemarin anak hadir di dalam kandungan dan sekarang sudah kembali kepada Tuhan, Sang Pencipta. Beberapa orangtua yang pernah saya jumpai setelah kematian seorang anak mengalami dukacita yang mendalam hingga perlu menjalani beberapa sesi terapi untuk mengatasi duka mereka. Pertanyaan yang sering mereka lontarkan adalah Ke mana ya anakku pergi setelah kehidupan di dunia ini? Pertanyaan ini bisa membuat orangtua menjadi tidak tenang, sampai-sampai beberapa dari mereka mengalami masalah kejiwaan yang serius.

Kematian merupakan peristiwa di mana tubuh dan nyawa terpisah, sehingga kesempatan untuk melakukan semua aktivitas dan perjalanan di bumi berakhir untuk selamanya. Jika Tuhan mengizinkan anak-anak pergi mendahului kita, bagaimana kita dapat meresponinya? Alkitab memberi pengharapan bahwa iman kepada Tuhan Yesus Kristus sanggup menyelamatkan semua orang percaya.

Bagi orang Yahudi, bayi yang dilahirkan memiliki Yetser Hara (dorongan yang tidak baik) dan dalam perkembangannya seorang anak dapat mengembangkan Yetser Hatov (dorongan baik/hati nurani/moral). Anak-anak dapat berkembang dan membedakan mana dorongan yang baik serta mana yang buruk. Dengan demikian, bayi yang dilahirkan ke dunia meski belum berbuat dosa, tetapi sudah dalam keadaan berdosa. Ia memiliki tabiat dosa di dalam dirinya. Lalu, bagaimana dengan keselamatan bayi tersebut? Keselamatan pada bayi mengikuti iman orangtuanya. Melalui iman orangtua, anak-anak akan terhubung dengan Allah. Anak-anak berakar pada Kristus, karena orangtuanya berakar pada Kristus. Roma 11:16 menyatakan “Jika roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.” Firman Tuhan ini membuat kita memahami pentingnya orangtua untuk berakar dan bertumbuh di dalam Tuhan.

Pertumbuhan iman orangtua dapat menjadi pengharapan bagi pertanyaan yang kerap membebani benak mereka yang kehilangan anak-anak mereka ketika masih kecil. “Ke mana bayi kecilku pergi setelah ia meninggalkan dunia ini?” Bahkan pengharapan ini tidak terbatas bagi para orangtua yang anak-anaknya diizinkan untuk pergi mendahului mereka, tetapi juga berlaku bagi orangtua mana pun, karena pertumbuhan iman orangtua sanggup menolong, mempersiapkan, dan mengantar anak-anak kita kepada Allah.

Bagi kita yang masih hidup, kita tidak tahu kapan kita ataupun anak-anak kita akan kembali kepada-Nya, tetapi kita dapat mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu hal itu terjadi. Apa rahasianya? Rahasianya cukup dengan 3B, yaitu:

  1. Beres dengan Tuhan (2 Korintus 5:21)

Ketika kita berbalik dari segala jalan dosa, kita menerima pengampunan Yesus. Tuhan tidak lagi melihat kita sebagai orang berdosa, tetapi Dia melihat kita melalui Kristus. Kita telah dibenarkan karena pengorbanan Yesus. Pengampunan Yesus memberi kelegaan dan menghilangkan rasa takut terhadap kematian.

  1. Beres dengan Diri Sendiri (Yesaya 43:4, Efesus 1 dan 2)

Pengampunan Tuhan yang sudah kita terima akan menolong kita memiliki kehidupan yang baru. Harga diri kita ditentukan oleh penilaian Allah, yaitu bahwa manusia adalah pribadi berharga di mata-Nya, (Yesaya 43:4). Inilah yang dimaksud beres dengan diri sendiri.

Beres dengan diri menolong kita untuk memulihkan keadaan diri sendiri, menerima, menghargai, dan mengasihi diri sendiri, serta tidak menghakimi dan menghukum diri sendiri. Jika sewaktu-waktu Tuhan memanggil kita, maka kita dapat meresponi dengan tenang karena diri kita sudah beres dengan pertolongan kasih-Nya.

  1. Beres dengan Sesama (Kolose 3:13)

Hidup yang tenang adalah hidup yang mengasihi sesama, yaitu dengan membereskan diri agar melepaskan pengampunan kepada musuh, sehingga hidup menjadi tenang dan kalaupun kematian menjemput, kita tidak akan kepikiran dengan musuh di dalam hidup kita. Jadi, melepaskan pengampunan kepada musuh atau orang-orang yang bermasalah dengan kita akan mempersiapkan kita mengakhiri hidup dengan indah.

Ketika Tuhan mengambil kembali titipan-Nya ataupun diri kita sendiri, siap atau tidak siap, kita sudah mempersiapkan diri menghadapinya. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.

Yuk berjalan berdampingan untuk

Menjadi Orangtua Sebaik yang Kita Bisa.

Kami akan menampilkan artikel, kesaksian, dan tips-tips parenting setiap
minggunya.

Klik untuk SUBSCRIBE