Di Hari Ibu Internasional ini, marilah kita menyelidiki ilah-ilah yang bersembunyi di hati kita.

 

Ibu.

Salah satu sebutan terindah yang selalu mampu menyeret bangun seribu satu emosi. Bahagia bercampur sedih bercampur bangga bercampur lelah bercampur cemas bercampur perasaan bersalah dan emosi-emosi yang terkadang, saking campur aduknya, sulit sekali untuk dinamai. Bukan itu saja. Seorang ibu juga kerap digambarkan sebagai pelabuhan yang menenangkan, mercusuar yang mengarahkan dengan cahayanya, dan… menara doa yang kokoh bagi anak-anaknya.

Ibu juga memicu banyak pendapat dan perdebatan sepanjang zaman. Bahkan di masa sekarang, berbagai kubu para ibu masih saja berdebat tentang mana yang lebih baik: ibu yang melahirkan normal atau dengan operasi caesar? Mana yang lebih hebat: ibu kantoran atau ibu rumah tangga? Bahkan perdebatan ini bisa sampai ke urusan mana yang lebih keren: ibu yang memberi bayinya asi atau susu formula? Dan banyak lagi perbandingan serta persaingan yang sepertinya tidak ada habis-habisnya, yang ujung-ujungnya selalu berhubungan dengan anak.

Namun, tahukah kita bahwa apa pun latar belakang dan pendapat kita, semua ibu, termasuk Anda dan saya, sesungguhnya adalah sama di hadapan Tuhan? Kita sama-sama diciptakan untuk mengasihi dan menyembah Dia, menjadikan Dia sebagai satu-satunya sumber kepuasan kita. Bahkan dalam peran kita sebagai ibu, kita mengemban satu tugas utama yang sama, yaitu mengajar anak-anak kita agar terkoneksi langsung dengan Tuhan.

Sayangnya, meski semua ini kita ketahui, sebagai ibu yang hidup di dunia yang telah dirusakkan dosa, kita sering kali sulit memfokuskan pandangan kita hanya kepada Allah. Seperti yang pernah dikatakan oleh John Calvin, “Hati manusia adalah pabrik yang menciptakan ilah-ilah.” Manusia berdosa merasa tidak cukup hanya menyembah Allah saja sebagai Pribadi yang patut diutamakan untuk dipuji. Manusia berusaha mencari ilah-ilah lainnya demi memuaskan keinginan jangka pendek di kehidupan fana, dibandingkan dengan kehidupan kelak dalam kekekalan.

Ilah Seorang Ibu

Bagi seorang ibu khususnya, tidak mudah untuk tetap berpaut pada Allah, ketika setiap hari kita dicekoki dengan suara-suara dan nilai-nilai yang dianut dunia. Jika suara Allah semakin sayup terdengar, maka hati pun akan condong untuk mengadopsi cara dunia memandang nilai diri kita serta panggilan kita sebagai ibu. Bahkan, tidak jarang ibu-ibu jadi ikut-ikutan mengejar berbagai pencapaian dan kesuksesan duniawi, menjadikannya yang terutama, lalu menyeret anak-anak ikut bersama mereka. Secara tidak sadar, di dalam takhta hati mereka, mereka telah menggantikan Allah dengan ilah-ilah duniawi.

Sadar atau tidak, hal yang paling sering menjadi ilah terbesar bagi seorang ibu adalah anaknya sendiri. Anak-anak bahkan dapat menjadi ilah seorang ibu sejak keinginan untuk memiliki mereka terbit dalam hati sang ibu.

Hal ini dapat kita temukan dalam kisah Rahel. Karena dipicu oleh perasaan iri dan persaingan dengan Lea, Rahel mau melakukan apa saja demi memiliki anak. Ia bahkan rela “menyerahkan” suaminya untuk menghabiskan satu malam dengan kakaknya, yang adalah saingannya, demi buah dudaim (Kejadian 30:15). Buah dudaim populer dikenal dengan nama “apel cinta” dan memiliki aroma yang harum pada saat musim semi. Sejak zaman dahulu, buah dudaim dianggap manjur untuk meningkatkan kesuburan manusia atau membantu kehamilan. Itulah sebabnya Rahel yang mandul itu bersikeras meminta buah tersebut dari Lea.

Tentu, kerinduan untuk memiliki anak adalah hal yang wajar, dan boleh saja kita melakukan berbagai upaya untuk mendapatkannya. Namun, hendaknya kita tetap meletakkan keinginan dan upaya kita tersebut di bawah kehendak Allah dan tidak menjadikannya lebih utama daripada Allah sehingga menjadi suatu ilah. Apalagi setelah anak yang kita nantikan itu akhirnya hadir dalam hidup kita, lalu kita menjadikan mereka sebagai alasan utama hidup kita dan mereka menjadi segala-galanya bagi kita. Kita pun mulai mencari kepuasan dan kepenuhan dalam dan melalui diri anak-anak kita, sehingga ketika mereka tidak menjadi seperti yang kita inginkan, ketika mereka mengecewakan kita, kita merasa terpukul dan putus asa.

Ilah Kesuksesan

Kesuksesan anak bagi seorang ibu, sering kali sudah dinodai oleh keinginan dan ambisi pribadi. Banyak ibu yang berkeinginan, ketika anak sukses maka orang lain menghormati, bahkan mungkin iri kepada mereka. Atau tak jarang seorang ibu menginginkan kesuksesan anak yang sesuai dengan apa yang ditargetkannya, seperti menjadi terkenal dan berpenghasilan tinggi, bahkan mungkin menyandang profesi tertentu yang dianggap dapat mengangkat pamor dan kehormatan keluarga.

Dari sini, sebagai ibu kita perlu berhati-hati. Karena kita sendiri sudah punya bayangan kesuksesan yang ideal bagi anak-anak kita, kita jadi memaksa mereka untuk terus meraih target-target yang kita tetapkan bagi mereka. Lalu jika mereka tidak berhasil meraihnya, kita pun merasa seperti pecundang, dan keterbatasan anak-anak kita pun menjadi ancaman terhadap mimpi-mimpi kita.

Sebagai ibu, kita perlu selalu mengingatkan diri bahwa anak-anak kita bukanlah milik kita, melainkan milik Tuhan. Oleh sebab itu, kesuksesan mereka yang sejati bukanlah kesuksesan versi kita, melainkan kesuksesan yang sejati di mata Tuhan, yaitu ketika mereka boleh dipakai oleh Tuhan dalam pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Sang Ilah Pengendali

Tak dapat dipungkiri, hati seorang ibu biasanya cenderung ingin mengendalikan seluruh aspek dalam kehidupan anak-anaknya. Caranya sering kali dengan mengontrol semuanya, dan kebanyakan dengan dalih demi keselamatan anak-anak. Menjadi ibu siaga yang selalu berjaga-jaga, dan siap dengan berbagai strategi kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi di luar rencana. Sering menghabiskan waktu dengan mengatur dan menyusun kehidupan anak-anak. Memilihkan untuk mereka. Memutuskan untuk mereka. Dan jika ada sedikit saja yang salah, maka akan buru-buru membereskan semua tanpa memberi anak kesempatan untuk berjuang.

Yokhebed, ibu Musa, pernah berada dalam situasi pelik. Di satu sisi ia ingin terus menjaga dan melindungi di dalam rumahnya, namun sadar, bahwa ia tidak dapat menjamin keamanan seratus persen bagi putra tersayangnya yang sudah semakin besar dan tangisnya semakin kuat. Kondisi saat itu membuat bayi Musa sulit sekali disembunyikan, maka dengan berat hati, Yokhebed pun mengambil keputusan besar dengan melepaskan Musa dalam sebuah keranjang ke Sungai Nil. Yokhebed telah menunjukkan keberanian dan iman saat situasi yang dihadapinya sudah di luar kendalinya. Ia mempercayai Allah dan menyerahkan putranya sepenuhnya ke dalam tangan pemeliharaan-Nya.

Dari ibu Musa ini kita melihat bahwa menjadi ibu kadang-kadang tangan kita memang perlu menggenggam, tetapi tidak jarang kita juga harus membuka tangan kita dan melepaskan. Di saat kita harus melepaskan, sangat penting bagi kita untuk mempercayakan anak-anak kita ke tangan Tuhan. Seperti Yokhebed, ibu yang tahu bahwa tangannya tidak cukup panjang untuk selalu dapat melindungi anaknya, tetapi tangan Tuhan-lah yang sanggup untuk terus memegang anaknya dalam jarak seluas apa pun.

Melepas Ilah dan Mencondongkan Hati pada Tuhan yang Sejati

Masih banyak ilah lain yang bisa saja bercokol di hati kita, hati seorang ibu. Majalah-majalah parenting, uang, pendidikan, dan banyak hal baik lainnya dengan mudah dapat berubah menjadi ilah-ilah kita. Bahkan suami dapat menjadi ilah kita ketika kita menjadikannya sebagai satu-satunya tempat bersandar dan bergantung. Bukan itu saja. Ibu mertua yang memiliki banyak pengalaman kemudian kita jadikan sumber “hikmat” dalam pengasuhan, sehingga kita tidak lagi mencari hikmat dari Alkitab. Padahal sesungguhnya semua ini adalah hal-hal yang baik yang diberikan Allah untuk menolong kita. Namun, sebagai manusia berdosa, kecondongan hati kita membuat kita lebih mengandalkan manusia daripada mengandalkan Allah. Kita pun melupakan firman Tuhan dalam Yeremia 17:5, “Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!’”

Namun, kita masih bisa belajar dari seorang ibu yang hidup ribuan tahun yang lalu, tetapi yang tindakannya sungguh masih menyegarkan jiwa. Hana namanya, ia adalah istri Elkana. Dialah ibu yang datang kepada Allah dengan permohonan yang terbit dari hati yang remuk redam karena tidak memiliki anak. Ia bernazar jika Allah mengabulkan doanya, ia akan memberikan anaknya kepada Tuhan. Ketika Allah akhirnya mendengarkan doanya, Hana memegang janjinya dan mengembalikan putranya, Samuel, untuk dipakai Allah. Sungguh tak terbayangkan bagaimana perasaan Hana, saat ia harus mengembalikan satu-satunya putra yang telah dinantikannya selama puluhan tahun ke tangan Allah lagi. Dapatkah kita melakukan seperti yang Hana lakukan ini?

Samuel memang adalah pemberian Tuhan yang sangat berharga, tetapi Hana patut mendapat acungan jempol karena tidak menganggap Samuel sebagai “ilah”nya. Ia tetap menepati janjinya dan menyerahkan putranya kembali kepada sang Pemberi.

Mengenali bahwa sesuatu adalah ilah bukanlah tugas yang mudah. Ini dikarenakan banyak ilah yang telah diterima bahkan menjadi bagian dari budaya masyarakat kita, sehingga kita pun menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan tidak berbahaya. Oleh karena itu, kita perlu terus memohon tuntutan Allah untuk mengungkapkan ilah-ilah yang bersembunyi di dalam hati kita.

Namun, jangan berhenti sampai di situ saja, melainkan ambillah langkah berikutnya, agar ilah-ilah itu tidak kembali bertakhta di hati kita lagi. Caranya bukan dengan berupaya keras untuk menghindari ilah-ilah tersebut, tetapi dengan mencondongkan hati kita kepada Tuhan. Menjadikan Dia sebagai sumber kepenuhan kita. Menginginkan Dia di atas segalanya. Reguklah firman-Nya dengan rasa haus yang tak terkatakan, setiap hari sepanjang hidup kita, sebab semakin kita tinggal di dalam firman-Nya, maka semakin kita tenggelam dalam kasih Kristus yang akan membasuh hati kita dari ilah-ilah duniawi kita.

Yuk berjalan berdampingan untuk

Menjadi Orangtua Sebaik yang Kita Bisa.

Kami akan menampilkan artikel, kesaksian, dan tips-tips parenting setiap minggunya.

Klik untuk SUBSCRIBE